Sabtu, 02 Maret 2013

Bung Karno Menjadi Komunis Atau TIDAK

Dalam menghadapi tokoh dunia
yang seide Bung Karno akan tampil
begitu manisnya, tapi dia akan
begitu garang bila menghadapi
tokoh-tokoh Negara besar yang
tidak memberikan rasa hormatnya
kepada Indonesia.
Nah, ini adalah sekelumit pujian
Bung Karno kepada Mao. Pertama,
ia memuji Mao sebagai seorang
pemimpin yang cerdik. Dikisakan,
pada satu periode, Negeri Tirai
Bambu itu terancam bahaya
kelaparan. Tanaman padi, jagung,
dan gandung yang ditanam para
petani, terancam gagal panen.
Ancaman terhadap produksi
bahan pakan negeri dengan
penduduk terbesar di dunia itu,
datang dari jutaan burung pipit
yang hidup liar di seantero negeri.
Betapa tidak, tatkala bulir-bulir
padi mulai ruah, kawanan burung
pipit menyerbunya habis. Pohon
padi yang siap panen pun
menjulang tanpa isi. Sebuah
ancaman kelaparan sungguh
tampak di pelupuk mata.
Mao Zedong menerapkan strategi
jitu guna menuntaskan hama
burung pipit di negerinya. Mao
tahu, burung pipit hanya punya
kemampuan terbang terus-
menerus selama empat jam. Maka,
pada suatu ketika, Mao
memerintahkan rakyatnya yang
waktu itu berjumlah 600 juta,
untuk secara serentak memukul
tong-tong dari bambu, mengoyak-
oyak pepohonan, berteriak-teria k
atau berbuat sesuatu untuk
menghalau burung pipit.
Perintah Mao dipatuhi. Alhasil,
suatu hari, sejak pukul lima pagi
hingga jam sembilan, ratusan juta
rakyat di seluruh penjuru negeri
melaksanakan perintah Mao.
Gaduhlah negeri itu. Syahdan… jam
sembilan lebih 30 menit, kurang
lebih, jutaan burung pipit
berjatuhan, lemas menggelepar di
tanah. Sontak jutaan rakyat Cina
menangkap, memungut,
menggoreng dan memakannya.
Persoalan pun teratasi.
Bung Karno sangat sering menyitir
kejadian di atas dalam banyak
kesempatan, di banyak negara. Tak
heran jika sebagian orang yang
tidak menangkap substansi,
langsung menuding Bung Karno
berbaik-baik dengan tokoh
komunis. Bahkan tidak sedikit
yang menuding adanya
kecenderungan Bung Karno
menjadi komunis.
Atas tudingan sampah tadi, Bung
Karno lewat buku yang ditulis
Cindy Adams menukas, “Aku akan
memuji apa yang baik, tak
pandang sesuatu itu datangnya
dari seorang komunis, Islam, atau
seorang Hopi Indian. Akan tetapi,
betapa pun, pandangan dunia luar,
maka terhadap persoalan apakah
aku akan menjadi komunis atau
tidak, jawabnya ialah: T-I-D-A-K!”
Bahwa ia bersahabat baik dengan
Moskow dan Beijing, Bung Karno
bardalih karena memang kedua
negara –yang kebetulan komunis–
itu begitu menghormati dan
mengagungkan Bung Karno. Ia
mengambil contoh, saat
berkunjung ke Moskow, 150 orang
Rusia berbaris untuk menyanyikan
lagu “Indonesia Raya” sebagai
penyambutan terhadap
kedatangan Bung Karno di
lapangan terbang, sungguhpun
Bung Karno datang dengan
pesawat terbang Amerika (PanAm).
Atas peristiwa itu, Bung Karno
mengaku terharu, bahkan air
matanya berlinang-linan g.
Demikian pula ketika Bung Karno
berkunjung ke Cina. Di Beijing,
rakyat Cina menyambut
kedatangan Bung Karno dengan
arak-arakan pawai raksasa serta
tembakan penghormatan. Bung
Karno bahkan bisa merasakan,
orang-orang yang ikut dalam
rombongannya, ikut merasakan
bangga. Bangga karena bangsa
Indonesia yang telah diinjak-injak,
kini telah mengambil tempatnya,
berdiri di antara bangsa-bangsa
besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar